Turning Point

Turning Point

Beberapa hari di Bali bersama istri kira2 sebulan yang lalu menjadi kesempatan bagi saya untuk bertemu dengan seorang teman yang saat ini berdomisili di Bali.

Pertemanan kami berlangsung sejak SD sampai SMP. Waktu SMP, saya satu grup Pramuka dengan dia selama dua tahun. Di saat teman lain meninggalkan grup yang saya pimpin di kelas 1, teman yang satu ini tetap bersama saya. 

Saya ingat waktu SD dia merupakan pribadi yang ciwekan (kalau berkelahi dengan teman gampang nangis hehe). Walau terlihat berani di awal, namun pada akhirnya menangis. Waktu SMP sudah lumayan berubah, tidak seperti di SD.

Karenanya ketika saya mendengar dia sudah mandiri dan survive di Bali saya penasaran untuk bertemu dengan dia.

Singkat cerita bertemulah kami di suatu tempat dekat pantai Kuta. Perasaan senang, haru, bangga menjadi satu. Kalau yang pernah ketemu kawan lama pasti tau rasanya seperti apa hehe.

Kami mengobrol2 ditemani kopi dan cemilan. Sampai pada saatnya saya bertanya, “apa turning point (titik balik) yang membuatmu bisa mandiri dan survive di sini kawan?” Mengapa saya bertanya titik balik? Karena memang dalam bayangan saya dulu ia sangat mudah menjadi lemah dan takut ketika menghadapi masalah.

Lalu berceritalah kawan saya mengenai perjalanan hidupnya sedari dia menginjak bangku SMA sampai kuliah. Satu momen yang menjadi turning pointnya adalah ketika ia kuliah, toko orang tuanya mengalami kebakaran di pasar. Terjadi kerugian yang sangat besar. Hingga ada orang yang menganjurkan agar ia berhenti kuliah saja agar tidak memberatkan orang tua. Anjuran tersebut membuat hatinya galau, sebab waktu itu ia sedang skripsi. Iapun memberanikan diri untuk bertanya pada orang tuanya. Namun orang tuanya justru menyarankan agar ia melanjutkan kuliahnya sampai selesai. Orang tuanya akan mengusahakan dengan cara apapun.

Titik tersebut membuatnya sadar untuk bisa mandiri dan menuntut ilmu dengan lebih serius lagi. Hingga akhirnya, ia dapat menyelesaikan kuliahnya dan menjadi kepercayaan bos di tempat ia magang.

Masalah seringkali dapat membawa suatu perubahan hidup. Ada yang menjadi putus asa dan berhenti berharap, namun ada pula yang justru terlecut untuk menjadi mandiri. Mau tidak mau kondisi tersebut membuat kawan saya menyadari bahwa ia harus berubah. Bukan hanya demi dia, tapi juga bagi orang-orang yang ia sayangi.

Kawan saya itu, sekarang sudah memiliki kantor desain interior sendiri, dengan membawahi beberapa karyawan. Ia juga sudah dikaruniai keluarga yang berbahagia dan juga tempat tinggal sendiri. Ia juga tak lupa untuk tetap setia beribadah. Ia tahu bahwa Tuhanlah yang campur tangan dalam tiap proses hidupnya.

Share tentang turning point tersebut menjadi berkat bagi kehidupan saya untuk merenungkan kembali seperti apa saya menjalani hidup yang sedang saya jalani ini.

Allah turut bekerja dalam segala hal untuk mendatangkan kebaikan bagi kita yang mengasihi-Nya (Rom 8:28). Amin

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this: