RIP Pdt.Petrus Agung Purnomo

Lusa kemarin saya dikejutkan dengan berita meninggalnya Pdt.Petrus Agung Purnomo. Setelah menunggu beberapa saat saya melihat rektor saya juga memasang display picture (dp) tentang hal tersebut. Kemudian saya konfirmasi dengan rektor saya dan hal tersebut memang benar adanya, sebab rektor saya mendapat info tersebut dari sumber terpercaya.
Saya ambil keputusan untuk memasang dp seperti rektor saya.
Hal yang terjadi berikutnya adalah saya mendapat banyak respon dari teman2 bbm saya. Dan saya mendapat beberapa info yang simpang siur. Ada yang mengatakan belum meninggal tetapi koma, ada yang mengatakan hanya diajak Tuhan sebentar ke surga, ada yang mengatakan sedang didoakan untuk dibangkitkan.

Ternyata setelah semakin banyak yang merespon dp saya, saya juga mendapat info bahwa akan diadakan doa untuk kebangkitan almarhum di JKI Holy Stadium pukul 12.00-15.00. Itu sebabnya kepada teman2 yang bertanya lebih lanjut, saya hanya bisa katakan, lets see aja, kita lihat saja perkembangan berikutnya.

Sore harinya, saya dikabari oleh teman saya mengenai konfirmasi dari pihak sinode JKI bahwa setelah didoakan sampai pukul 15.00 dan tidak terjadi apa-apa, maka diputuskan bahwa Pdt.Petrus Agung Purnomo memang benar-benar sudah dipanggil Tuhan.
Malamnya saya browse berita okezone, dan ternyata masih akan diadakan doa lagi di malam hari untuk kebangkitan hamba Tuhan tersebut.
Selanjutnya sekitar jam 22.00 saya mendapat kabar lagi dari rektor saya konfirmasi dari keluarga Pdt.Petrus Agung bahwa mereka sudah menerima kepergian hamba-Nya.

Saya bukan dalam kapasitas mengomentari kronologis tersebut. Saya turut berdukacita atas kepergian Om Petrus. Bagaimanapun, lepas dari kontroversi mengenai beberapa pengajaran beliau, ada momen hidup saya yang diwarnai oleh pengajaran Om Petrus. Tepatnya di masa kuliah S1, dimana itu merupakan masa krusial dalam pencarian jati diri dan panggilan hidup saya, saya bersyukur mendapat banyak insight dari pengajaran beliau. Mentor saya di waktu itu juga adalah anak didik beliau.

Hal yang begitu kental dalam pengajaran beliau adalah bagaimana tiap anak Tuhan perlu mengalami Tuhan secara pribadi. Saya masuk kuliah dgn posisi yang sepertinya aman dan baik-baik saja. Saya anak pendeta yang dididik dalam disiplin rohani ketat, berkecimpung dalam berbagai bidang pelayanan. Namun harus diakui bahwa saya tidak begitu memandang penting tentang mengalami perjumpaan dan pengalaman pribadi dengan Tuhan. Saya merasa diri sudah baik dan rohani. Ternyata saya totally wrong.

Saya bersyukur bisa mendengar pengajaran-pengajaran beliau yang menyadarkan saya bahwa mengalami Tuhan adalah hal terpenting dalam hidup ini. Mengikut Tuhan bukan sekedar teori, doktrin, ajaran belaka. Saya mulai dari nol lagi kemusafiran pengenalan saya pada Tuhan.

Bagaimanapun, h idup dan pengajaran beliau sudah menjadi berkat di mana-mana dan bukan hanya bagi saya.Belum lagi kalau membicarakan pelayanan-pelayanan sosial berbagai bidang yang diinisiasi oleh beliau. Pasti banyak yang sudah mendapat berkat.

Tuhan berdaulat atas segalanya dalam hidup kita. Tuhan juga yang berdaulat menentukan kapan akhir perjalanan hidup hambaNya di muka bumi ini. Ya, Dia Tuhan yang berdaulat.
Terima kasih Om Petrus Agung. Rest in peace…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: