Nekamese

Bulan Agustus lalu, ketika libur lebaran, saya berkesempatan mengikuti acara retreat sinode Gereja Pantekosta se-NTT, sambil juga mengisi satu sesi di acara tersebut.

Keberangkatan saya sebenarnya tidak terlalu direncanakan.

Beberapa clue yang meyakinkan saya untuk berangkat.

1. Keyboard midi-controller yang terjual

Di rumah, saya memiliki sebuah keyboard midi-controller, yang sejak beberapa lama ingin saya jual, karena saya jarang memakainya lagi, meski kondisinya masih bagus. Eh, kebetulan beberapa hari sebelum acara, keyboard tersebut ditawar oleh seorang kaskuser. Dan akhirnya deal. Uang hasil penjualan keyboard tersebut bisa saya gunakan untuk membeli tiket perjalanan ke Kupang (selain juga ada bantuan-bantuan dari saudara-saudara seiman), hehe..

Sebenarnya bisa juga minta ke kas pusat sinode untuk membiayai perjalanan tersebut, toh juga perjalanan tersebut bukan untuk liburan, melainkan berhubungan dengan tugas saya di sinode. Namun, karena saya pikir sinode masih membutuhkan beragam keperluan yang membutuhkan biaya, alhasil saya tidak meminta bantuan kas pusat.

2. Tidak bentrok dengan jadwal kuliah

3. Tiketnya masih ada untuk dipesan (berhubung saya pesennya mepet hehe)

Berbekal tiga clue tersebut, berangkatlah saya (eh, jangan dijadikan patokan ya. ga pake clue2 juga gpp hehe). Nekamese artinya satu hati. Merupakan nama tempat diselenggarakannya retreat tersebut. Nekamese adalah sekolah alam. Orang-orang di desa dapat menimba ilmu di tempat tersebut tanpa membayar uang, melainkan dengan hasil-hasil bumi dari desanya. Di Nekamese, selain sekolah alam dan tempat retreat, terdapat juga peternakan kambing, sapi, kuda, dan babi (kalau saya tidak salah ingat).

Tempatnya indah, hawanya pun sejuk, kadang angin bertiup dengan kencang.

Apresiasi saya untuk panitia yang telah bekerja keras dan menyiapkan segalanya dengan baik. Retreat ini menggunakan multi pembicara, jadi tidak hanya satu pembicara tunggal. Pembicaranya berasal dari beragam bidang, kepemerintahan, kerohanian, pendidikan, dll. Pesertanya berasal dari daerah-daerah di NTT. Antusiasme mereka luar biasa. Dengan segala keterbatasannya mereka mau memberikan yang terbaik untuk Tuhan.

Seusai acara retreat, saya menginap satu malam di tempat bapak pendeta di Kupang. Sungguh, sambutan hangat yang keluarga mereka berikan membuat saya terharu. Saya beryukur dan berterima kasih pada Tuhan karena memberikan saya kesempatan untuk berada di tempat tersebut, melihat dari dekat pergumulan-pergumulan yang dihadapi oleh saudara-saudara seiman di wilayah Timur Indonesia.

Jangan pernah memandang remeh pada mereka yang berada di wilayah-wilayah jauh Timur Indonesia. Stigma negatif yang dikembangkan pemerintah era orde baru hendaknya dibuang jauh-jauh. Dengan perhatian pemerintah yang adil, serta etos kerja masyarakat daerah yang terus ditingkatkan, wilayah Timur Indonesia dapat terus berkembang dan bahkan menjadi salah satu ikon Indonesia di mata dunia.

Itulah sekelumit cerita tentang Nekamese.. dan, tentu saja masih banyak memori lain yang tak tercatat di tulisan ini…

Salam..

nekamese

nekamese

3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: