Pamit

Pamit itu tidak mudah kalau kita sudah kerasan.
Pamit itu tidak mudah kalau kita sudah cinta ma yg dipamiti.

Saya ingat pas masa kecil dulu. Saat bermain ke tempat saudara2 di luar kota, sangat sedih rasanya ketika harus pamit. Ada suatu rasa tidak rela, kecewa, dll.

Saya ingat pas masa2 galau, ketika harus pamit dengan orang yang dicintai. Ada rasa sesal, kesal, dll.

The World is not Our Home
Demikian juga ketika kita semakin kerasan dan cinta pada kegelimangan dan kesemuan dunia ini, nantinya kita susah pamit kalo udah harus meninggalkan dunia ini. Pernah liat orang yang rasanya susah banget pas mau meninggal dunia? Di lain pihak ada juga yang rasanya damai banget pas mau mangkat.

Istilah ‘pulang ke rumah Bapa’ menunjukkan sebenarnya rumah kita bukan ‘di sini’ tapi ‘di sono’ (surga/swargo).

Relakah kita ketika harus pamit pada saatnya nanti?

Mangkanye, mari kita coba belajar sejak dini pamit dengan segala hal yg sepertinya mengenakkan dan menyenangkan, tapi membuat kita lupa rumah kita yang sebenarnya.
Coba belajar lebih dini merasakan kesal, sesal, kecewa, tidak rela, dll ketika harus menahan diri dari hal2 yang menjauhkan kita dengan ‘rumah asli’ kita. Itu toh nantinya akan berujung nikmat di akhirnya, ketika kita pulang dengan damai.

Pamit ah🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: