Mengenang Beliau

Ada sesuatu yg berbeda ketika sakramen Perjamuan Kudus seminggu yang lalu..

tidak ada lagi Bapak Sumaryoto
tidak ada lagi, ucapan khas, “haleluya” ala beliau..
tak ada lagi rona teduh kebapakan khas beliau..
ya, beliau sudah dipanggil oleh Sang Khalik..

Saya banyak belajar dari beliau..
Saya mungkin tidak sedekat orang lain dalam mengenal beliau, namun kalau boleh digambarkan dengan dgn beberapa kata, beliau itu: mbapaki, konsisten, taat..

Mbapaki..
Beliau (saya rasa) tidak perlu banyak belajar ttg kepemimpinan, tidak perlu juga mengklaim diri sebagai seorang bapak atau pemimpin, orang2 pasti sudah dapat merasakan figur kebapakan beliau. Istilah orang Jawa: ‘ngemong’..

Konsisten..
Jarak jauh tak menghalangi beliau dalam melaksanakan ibadahnya di gereja. Beliau konsisten juga dengan pasangan hidupnya. Pula ketika diberi tanggung jawab. Orang konsisten dan tanggung jawab pasti dapat berfungsi dimana2. Itu sebabnya beliau sering dipercaya dalam berbagai hal.

Taat (dan loyal)..
beliau taat pada otoritas. tidak cuma taat, beliau benar2 mencoba memahami instruksi pemimpin. kalau yg pernah ke rumah beliau, mungkin pernah melihat beliau memiliki kumpulan2 warta gereja, urut dari minggu ke minggu. Bahkan kalau beliau tidak masuk di suatu minggu, di minggu berikutnya beliau selalu menanyakan apakah masih tersedia warta minggu ketika dia absen (kadang miris sekali kalau melihat ada warta yang dibuang2 di gereja). Tak heran, dia pandai menerjemahkan apa yg menjadi impian, harapan, cita2, dan tentunya juga pengajaran pemimpinnya. Hmm..tak banyak yg bisa seperti itu..karenanya, saya pernah membatin dalam hati, ‘ayah saya beruntung memiliki salah satu pendukung seperti beliau’.

Singkatnya, beliau adalah pribadi yang memiliki integritas.

Kalau pinjam istilahnya Warren Buffet, idealnya, kita punya pendukung yang memiliki integritas, kecerdasan, dan berenergi. Namun, bila keadaan ideal tidak tercapai, pastikan kita memilih orang yang berintegritas. Orang cerdas dan berenergi, namun tidak berintegritas biasanya dapat merugikan, atau membuat segala macam cara untuk mengambil keuntungan pribadinya saja, bekerja demi kepentingan pribadi.

Kami semua merasa kehilangan. Kehilangan figur bapak, kehilangan teladan konsisten, dan juga teladan seorang pengabdi.

But, life must go on..Alih-alih terus meratap dan mencari sosok2 lain, alangkah baiknya jika kita belajar untuk bisa mbapaki tanpa harus mendikte dan memaksa, konsisten dan bertanggung jawab tanpa harus diimingi hadiah,pujian, atau jabatan, dan taat serta loyal. Kalau kita mau belajar, tentu orang2 di sekitar bisa terberkati (bukan malah merasa dirugikan) dan pemimpin kita juga bisa merasa terberkati..

Selamat jalan Pak Mar, sampai jumpa dalam kebahagiaan kekal bersama-Nya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: