Refleksi Titik Nol

Alih-alih berpikir tentang menjadi lebih dewasa dan bijak, satu hal yang terrefleksi di hati saya saat mengulang hari kelahiran adalah tentang kembali ke titik nol. Ya, titik nol. Titik nol saya maksudkan sebagai titik ketika seseorang terlahir di dunia. Titik ketika Tuhan mengizinkan mata menatap sinar dunia, selepas berada dalam kegelapan selama kurang lebih 9 bulan. Kegelapan yang kadang alpa untuk disyukuri. Padahal bagi para tuna netra sedari lahir, mereka tetap menatap gelap itu.

Titik nol, menjadi penting, karena Sang Pencipta tentu punya alasan kenapa kita diizinkan keluar dari rahim seorang bunda. Lebih jauh lagi, kenapa sel sperma bisa bertemu dengan sel ovum dan menghasilkan zigot, embrio, yang kemudian membentuk bayi.

Refleksi titik nol seharusnya menerbitkan tanya di sanubari, “Tuhan, apa alasanmu menciptakanku sebagai manusia?”. Banyak makhluk hidup di dunia ini, ada bermacam tumbuh-tumbuhan, hewan, lalu mengapa kita diciptakan sebagai manusia? Mungkin pertanyaan tersebut sering tak terpikirkan.

Pemazmur pernah berkata, umur manusia 70 tahun atau 80 tahun saja (dan menurut penelitian, memang rata-rata umur manusia sekitar entah 73 atau 78 tahun, kalau saya tidak salah ingat). Sekarang, di hari ini, di usia ini, sudahkah kita menemukan maksud Tuhan mencipta kita? Istilah kerennya, apa destiny kita?

Apakah hidup ini hanya untuk lahir-makan-minum-menjadi anak-remaja-dewasa-kerja-menikah-punya anak – membesarkan anak – menikahkan anak – punya cucu – mati? Jika demikian, tepatlah pendapat beberapa orang fatalis yang mengatakan bahwa tujuan hidup hanya untuk mati.

Pertanyaan “Tuhan, apa alasanmu menciptakanku sebagai manusia?” mungkin juga bagi beberapa orang adalah pertanyaan yang iseng dan mengada-ada. Hidup saja sudah susah dijalani, mengapa harus dicekoki lagi sebuah pertanyaan aneh seperti itu. Kesusahan menerima kenyataan hidup dapat terlihat dari orang-orang yang memutuskan untuk bunuh diri, mengakhiri hidup dengan cara sendiri.

Pertanyaan tersebut mungkin hanya akan terjawab jika kita menjalani hidup dengan menyadari kemahahadiran Sang Pencipta kita. Refleksi kesia-siaan dari Pengkhotbah di kitabnya, pada akhirnya berujung pada kesimpulan, hiduplah takut akan Tuhan.

Refleksi titik nol kembali menyadarkan bahwa kita hidup di area yang sepertinya tak bertuan, namun ternyata ada kehadiran Tuhan di mana-mana. Di waktu yang tersisa di rentang hayat ini, biarlah rindu pada-Nya selalu mewarnai jalan setapak kehidupan kita. Karena kita berasal dari-Nya dan suatu saat kan kembali pada-Nya di keabadian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: