HARUSKAH KITA LEBIH DULU TERTEKAN?

Kis 8:1b-4

8:1b Mereka semua, kecuali rasul-rasul, tersebar ke seluruh daerah Yudea dan Samaria.

8:2 Orang-orang saleh menguburkan mayat Stefanus serta meratapinya dengan sangat.

8:3 Tetapi Saulus berusaha membinasakan jemaat itu dan ia memasuki rumah demi rumah dan menyeret laki-laki dan perempuan ke luar dan menyerahkan mereka untuk dimasukkan ke dalam penjara.

8:4. Mereka yang tersebar itu menjelajah seluruh negeri itu sambil memberitakan Injil.

 

Dalam kitab Kisah Para Rasul, kita dapat melihat dahsyatnya peristiwa Pentakosta. Mengapa saya katakan dahsyat? Alasannya:

  1. Para murid menerima kuasa yang dijanjikan oleh Yesus, yaitu pencurahan Roh Kudus, dengan tanda-tanda ajaib
  2. 3000 orang langsung bertobat setelah kotbah Petrus
  3. Kuasa Allah dimanifestasikan secara nyata, baik dalam kehidupan berjemaat maupun dalam peristiwa-peristiwa di lapangan

Namun demikian, dalam perjalanan selanjutnya, meski diwarnai dengan mujizat-mujizat, jemaat Tuhan berada dalam comfort zone mereka. Sehingga yang terjadi selanjutnya adalah Tuhan mengizinkan peristiwa-peristiwa yang sepertinya buruk untuk mewarnai perjalanan jemaat Tuhan. Peristiwa apa? Penganiayaan yang hebat. Bukan hanya penganiayaan secara nonfisik, namun secara fisik dan terang-terangan pula. Salah satunya adalah ketika Stefanus dirajam sampai mati.

Apa akibatnya? Setelah Stefanus dibunuh, jemaat Tuhan mulai tersebar ke seluruh daerah Yudea dan Samaria.  Adanya penganiayaan yang hebat membuat mereka (kecuali para rasul) mau tidak mau menyebar ke daerah-daerah di sekitar Yerusalem. Dan akibat positifnya : mereka yang tersebar itu menjelajah seluruh negeri itu sambil memberitakan Injil.

Bagi kita, kisah tersebut dapat menjadi pelajaran, Tuhan tidak menginginkan kita terus berada dalam comfort zone kita. Ingatlah, kesibukan kita dalam melayani dan keteraturan jadwal kita dalam dunia pelayanan, dapat menjadi sebuah comfort zone. Kita menjadi lupa bahwa, Roh Kudus dicurahkan bagi kita bukan semata-mata untuk menunjang pelayanan kita, namun juga agar kita menjalankan misi kita dalam dunia ini, mempunyai hati bagi sesama kita yang membutuhkan di luar sana.

Pertanyaannya, apakah hati dengan misi tersebut masih ada pada kita? Masihkah kita tergerak untuk setidaknya berdoa bagi teman-teman kita yang terhilang?

Ataukah….kita harus menunggu Tuhan yang ‘menggerakkan’ kita dengan peristiwa-peristiwa yang ga enak, baru kemudian kita melakukan misi tersebut?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: