Hari-hari di Soe

Tanggal 8-10 Mei 2012 lalu, saya beserta ayah dan ibu mengikuti rapat sinode gereja kami di Soe, Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur. Kami berangkat tanggal 6 Mei, pukul 4 sore dari Wonosobo, sampai di Surabaya kurang lebih pukul 5 pagi. Setelah itu dari Surabaya, kami bersama rombongan dari Jawa Tengah dan Jawa Timur terbang menuju Kupang. Kami berangkat kurang lebih pukul 09.30 WIB dan sampai di bandara El Tari Kupang, pukul 12 WIB. Zona waktu di Kupang lebih cepat 1 jam dibanding dengan zona waktu di pulau Jawa, jadi di Kupang sudah menunjukkan pukul 1 siang.

Setelah dari Kupang, butuh kurang lebih 3 jam lagi untuk mencapai Soe. Bersama rombongan dari daerah lain yang sudah berkumpul di Kupang, kami menggunakan bus untuk mencapai Soe. Kami berangkat ke Soe setelah makan siang bersama. Jalan berkelok dan menanjak menjadi tantangan tersendiri dalam perjalanan tersebut. Tak heran, ada penumpang yang tidak kuat dan mabuk darat. Kami tiba di Soe kurang lebih pukul 5 sore WITENG. Keesokan harinya, rapat dimulai.

Tentu saya tidak akan menceritakan secara detail hari-hari saya di Soe. Namun, saya hanya akan membagi beberapa hal yang saya dapat di sana.

1. Masyarakat yang ramah

Penari Soe

Penari Soe

Masyarakat Soe

Masyarakat Soe

Ya, orang-orang Soe ramah-ramah, seringkali sebagian orang dari pulau Jawa memiliki stereotype (anggapan negatif) bahwa orang-orang di daerah Timor garang-garang dan tak ramah, namun, ternyata tidak demikian. Ketika sudah kenal, mereka adalah orang-orang ramah dan bersahabat, tidak pilih-pilih teman.

2. Soe su maju (baca : Soe sudah maju)

Sering ada pikiran bahwa masyarakat di luar pulau Jawa cenderung tertinggal daripada masyarakat di Jawa. Namun tidak demikian. Dari pengamatan saya, mereka sudah cukup maju dan melek teknologi. Jalan-jalanpun sudah banyak yang beraspal. Ya, Soe su maju..Walaupun tentunya masih ada daerah-daerah di pedalaman sana yang membutuhkan sarana dan infrastruktur yang layak dari pemerintah daerah dan pusat.

Soe su maju

Soe su maju

3. Antusias dan semangat dalam beribadah

Keceriaan, kegembiraan, selalu terpancar ketika mereka menyanyikan puji-pujian bagi Tuhan. Tak jarang juga ada tarian-tarian yang mereka lakukan di tengah pujian, dan itu dilakukan dengan spontan, tanpa dikomando oleh sang worship leader. Mereka tak malu-malu untuk menyanyi bagi Tuhan. Suaranya keras-keras bo’….

Soe Memuji Tuhan

Keceriaan dalam memuji Tuhan

4. Generasi muda yang perlu untuk dipacu lebih maju

Nah, satu fenomena yang saya lihat adalah banyak remaja atau pemuda yang menjadi awak angkutan kota. Baik itu menjadi supirnya atau kernetnya. Gaul juga sih, naik angkot dengan full musik, bass yang membuat jantung berdegup lebih kencang. Anehnya lagi, ketika saya bertanya pada orang-orang di sana, ternyata mereka memang lebih memilih untuk menaiki angkot yang dikemudikan oleh anak muda. Permasalahannya adalah, apakah remaja-remaja dan pemuda-pemuda tersebut hanya akan menjadi seorang supir angkot saja selama hidupnya. Banyak lahan-lahan pertanian dan juga peternakan-peternakan yang bila digarap dengan maksimal akan dapat menghasilkan hasil  yang luar biasa. Ternyata kebanyakan dari mereka lebih memilih untuk menjadi seorang supir angkot dibanding mengurus lahan pertanian atau peternakan milik mereka sendiri. Meskipun lahan tersebut dapat menghasilkan uang yang lebih banyak,  ternyata status sebagai petani dan peternak kurang diminati oleh anak-anak muda di sana. Profesi yang sangat disegani adalah menjadi pegawai negeri sipil (PNS).

Sebenarnya menurut hemat saya, mereka dapat mengumpulkan uang dari hasil pertanian dan peternakannya untuk melanjutkan menimba ilmu ke jenjang yang lebih tinggi, mungkin ke daerah Kupang, atau sekalian ke pulau Jawa. Namun rupanya banyak yang sudah puas dengan mengemudikan angkutan kota. Hmm..

Remaja Soe

Pengemudi remaja Soe

5. Kuliner

Banyak ragam makanan baru yang tidak terdapat di Jawa. Sebagai contoh, adalah pisang luan. Semacam pisang rebus, namun ketika kita memakannya, rasanya hampir seperti ubi rebus. Rasanya tidak manis, tetapi tawar. Nikmat bila didampingi dengan kopi J. Jenis makanan lain adalah jagung bose, daging sei, kemudian daging sepit (keduanya semacam daging bakar).

Pisang Luan

Pisang Luan

Pisang Luan

Pisang Luan

Akhirnya, tanggal 11 Mei kami pulang. Dari Soe, ke Kupang, lalu Surabaya, dan tanggal 12 Mei dinihari sampailah kami di Wonosobo, home sweet home.. I’ll miss u Soe.. Hopefully one day I would come to Soe again..

cindera mata khas NTT

mendapat cindera mata khas NTT

Pemuda Soe

bersama pemuda Soe

di bandara El Tari Kupang

di bandara El Tari Kupang

thank u.. God Bless U..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: