Kolokium, Skripsi, dan Pendadaran – sebuah kesaksian

Beberapa waktu lalu, ketika persekutuan doa..

Waktu penyembahan..

Saat menyembah, aku diingatkan tentang kebaikan Tuhan dalam hidupku. Kebaikan yang membuatku tersadar bahwa aku ini bukan siapa-siapa. Dan tiada yang dapat kulakukan tanpa penyertaan-Nya.

Aku diingatkan ketika aku harus menghadapi skripsiku, sebelum aku meraih gelar sarjanaku.

Di tempat kami kuliah, khususnya di jurusanku, yaitu teknik informatika, sebelum kami mengambil skripsi, kami harus terlebih  dahulu menghadapi kolokium. Kolokium dapat diartikan sebagai uji kelayakan atas judul skripsi kami.

Ketika kolokium, seorang mahasiswa diuji oleh kurang lebih 3-4 dosen. Namun berbeda dengan teman-temanku, waktu itu seingatku aku diuji oleh 7 atau 8 dosen. Aneh juga kupikir, kok bisa sebanyak itu. Namun puji Tuhan, berkat pertolongan Tuhan, tidak semua dosen tersebut bertanya tentang skripsiku. Mungkin hal tersebut disebabkan mereka tidak familiar dengan topik yang kubahas. Hanya 3 atau 4 dosen yang bertanya. Dan setelah aku dapat menjawab pertanyaan mereka, judul skripsiku dianggap pantas untuk dikerjakan. Puji Tuhan.

Skripsiku dapat kukerjakan bukan karena kepintaranku sendiri. Ada banyak teman-teman dan juga dosen yang membantuku. Judul yang kuambilpun bukan dari aku sendiri, melainkan ada dosen yang mengusulkan judul tersebut. Namun sayang, tak lama setelah beliau mengusulkan judul tersebut, beliau tidak lagi mengajar di kampus kami. Padahal tadinya aku ingin memintanya menjadi dosen pembimbingku.

Patut diingat, aku bukanlah seorang yang pinter-pinter banget di kuliahku. Ya bisa dibilang rata-rata air. Hal tersebut sangat terasa di skripsi. Aku harus ke tempat teman-teman untuk minta diajari tentang ini dan itu. Aku ingin skripsiku selesai, dan karenanya aku tidak hanya meratapi ketidakbisaanku dengan berdiam di kamar kos sambil memandangi skripsiku. Aku pergi ke sana sini untuk meminta bantuan temanku.

Setelah proses pengerjaan selesai, aku harus menghadapi ujian pendadaran. Ujian itulah yang menentukan apakah aku lulus atau tidak. Namanya saja pendadaran. Bayangkanlah telur yang didadar sampai mateng.

Ada satu dosen pembimbing yang cukup ‘mengkhawatirkan’. Mengapa? Karena dosen tersebut sangat jago programming, sedangkan aku tidak. Programming di skripsikupun dibantu oleh teman-teman. Namun, entah bagaimana, ketika akan diadakan ujian pendadaran, dosen tersebut harus pergi keluar kota, sehingga beliau tidak dapat mengikuti ujian pendadaranku.

Ketika ujian pendadaran. Tentu saja banyak pertanyaan yang diajukan. Membuat kepala cenat cenut, hati sendat sendut, dan untung tidak sampai terkentut-kentut. Ada bagian di mana aku tidak dapat menjawab pertanyaan dengan baik, sehingga aku terus dikejar dan dikejar. Pasrah, akupun berdoa dalam hati. Dan para dosen yang mengujiku pada akhirnya saling menjawab sendiri pertanyaan seorang dosen yang membuatku mati kutu.

Pada akhirnya,pendadaran berakhir. Waktu ujian pendadaranku sepertinya paling lama dibanding dengan teman-teman lain, karena ketika aku keluar aku melihat teman-teman yang lain sudah selesai diuji. Dan puji Tuhan, setelah diuji aku dinyatakan lulus dengan nilai B.

Pertolongan Tuhan begitu nyata. Saat kolokium, ketika harus diuji 7-8 dosen, saat akan ujian pendadaran dan salah satu dosen pembimbingku harus keluar kota, dan juga saat aku di dalam ujian pendadaran. Banyak teman tidak bersyukur ketika mendapat nilai B. Namun aku bersyukur, karena apa? Ya karena aku memang tidak pinter-pinter banget, trus skripsiku juga banyak dibantu oleh teman-teman lain. Jadi, mendapat nilai B sudah merupakan kemurahan Tuhan.

Melalui skripsiku, ujian pendadaranku, aku belajar lebih lagi tentang anugerah Tuhan. Anugerah adalah sesuatu yang sebenarnya tidak pantas untuk kita dapatkan, tapi itu diberikan kepada kita. Kelulusanku, adalah anugerah Tuhan. Banyak kekurangan dalam kuliah dan skripsiku, namun pertolongan Tuhan begitu nyata. Kalau dulu,semenjak SD, SMP, SMA, aku bisa mendapat ranking dengan baik, ketika kuliah aku benar-benar seperti orang bodoh, dan harus tanya sana sini agar aku mengerti apa yang kupelajari. Hanya karena anugerah Tuhanlah aku dapat lulus dan meraih gelar sarjanaku. Segala kemuliaan untuk Tuhan.

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: