Retreat 2011, Sebuah Refleksi

Kurang lebih 2 minggu berlalu sejak retreat pemuda remaja GPGH 2011 di Kaliurang. Banyak hal yang dapat menjadi pembelajaran hidup untuk dapat menjadi lebih baik di masa depan.

Berawal dari Kerinduan
Semua diawali dari sebuah kerinduan untuk membuat suatu event yang bertujuan mewarnai dan me-recharge kehidupan rohani remaja-pemuda GPGH, selain itu juga mempererat tali persatuan antarsesama remaja pemuda GPGH secara lintas umur.

Memilih Tema
Tema yang diangkat pada retreat kali ini adalah SMART FOR CHRIST. Tema ini diusulkan oleh pembicara yang akan mengisi pada retreat kami. Tujuannya adalah agar para peserta dapat menjadi SMART, bukan hanya di bidang akademis, namun juga dalam bidang spiritual, emosional, dll.

Memilih Tempat
Ada beberapa calon tempat yang kami rencanakan menjadi tempat retreat. Ada di daerah Kaliurang Jogja, daerah Purwokerto, dan daerah Salatiga. Setelah melakukan beberapa kali komunikasi dengan tempat-tempat tersebut berkenaan dengan waktu pelaksanaan retreat, terpilihlah tempat di daerah Kaliurang. Tepatnya di Omah Jawi Jogja. Survey pun dilakukan. Suasana asri, dan tempat yang cukup menyenangkan, serta harga yang relatif murah semakin memantapkan panitia untuk memilih tempat tersebut. Biaya dihitung per kepala @50.000/hari. Biaya tersebut sudah mencakup makan, snack, tempat menginap, dan juga aula. Karena kami memakai tempat tersebut 3 hari 2 malam, maka hitungannya menjadi 2 hari. Berarti @100.000. Bagi peserta, kami bebankan biaya @75.000. Kekurangan dana kami mencari dari para donatur.

Memilih Pembicara
Pembicara adalah tokoh sentral yang juga nantinya akan sangat berperan dalam retreat. Melihat tempat pelaksanaan retreat di jogja, kamipun cenderung memilih pembicara dari Jogja. Tentu bukan asal pilih. Terdapat beragam karakter pembicara. Ada yang bertipe nabi, ada yang bertipe mentor, ada yang bertipe pengajar, dan beragam tipe lain. Untuk retreat kali ini, pembicara yang kami pilih lebih bertipe pengajar. Hal tersebut kami lakukan karena remaja-pemuda hendaknya jangan cuma disentuh perasaannya, namun juga sisi pengetahuan. Apa gunanya semangat tapi tanpa pengetahuan yang benar dan mumpuni. Pilihan pembicara pada akhirnya kami jatuhkan pada Bp.Haryadi Baskoro. Seorang pembicara retreat, KKR, dosen di beberapa STT, sekaligus juga seorang penulis buku yang produktif.

Memilih Sarana Transportasi
Untuk sarana transportasi, kami mempertimbangkan apakah akan menggunakan beberapa mobil seperti tahun lalu ataukah menggunakan bus. Dan setelah kami kaji lebih lanjut, kami memutuskan untuk menggunakan bus. Selain dapat lebih memupuk rasa kebersamaan, ruang di bus pun lebih luas untuk menaruh barang-barang bawaan yang cukup banyak. Harganya pun tak jauh berbeda dibanding bila kami menggunakan beberapa mobil.

Peserta
Peserta retreat kali ini cukup beragam dalm segi umur. Ada yang baru menginjak bangku SMP, ada pula yang sudah bekerja. Walau berbeda, bukan berarti hal tersebut menjadi penghalang untuk bersama-sama di retreat. Malah kondisi tersebut semakin memperkaya warna retreat kali ini.

Pelaksanaan
Day 1
Selepas melakukan perjalanan selama kurang lebih 3 jam dari Wonosobo, kamipun tiba di tempat retreat. Terlebih dahulu kami makan siang, untuk mengisi perut yang sudah keroncongan. Selepas makan siang, segera kami melakukan ibadah pembukaan. Retreatpun secara resmi dibuka oleh Bapak Gembala kami.
Selepas ibadah pembukaan, kami mengadakan pembagian kamar peserta. Peserta pria disatukan dalam satu kamar besar, sedangkan peserta wanita dibagi dalam 2 kamar. 1 kamar lagi diperuntukkan bagi ibu-ibu yang ikut mengawasi retreat kami.
Setelah bagi-bagi kamar, peserta berkumpul kembali di aula. Kemudian peserta dibagi dalam kelompok-kelompok. Acaranya adalah isian tentang cara pandang dan jangan terburu-buru menilai orang lain. Malamnya, kami makan malam.

Sesi I
Setelah makan, dimulailah sesi I. Pada sesi I ini, pembicara menyampaikan tentang kecerdasan emosional dan juga mental tahan banting. Intinya, anak Tuhan perlu memiliki kecerdasan emosional dalam hidupnya. Jangan dikit-dikit nesu, dikit-dikit ngambek. Selain itu perlu ketahanan mental dalam hidup ini, jangan mudah menyerah bila mengalami kegagalan.
Setelah sesi pertama usai, dilanjutkan dengan isian tentang cinta. Dalam isian ini para peserta berbagi tentang kisah-kisah kehidupan cinta mereka. Dan dari sharing tersebut, bersama-sama menyimpulkan apa saja prioritas yang perlu diperhatikan dalam memilih pasangan hidup.

Day 2
Keesokan harinya, tentu dimulai dengan doa pagi. Doa pagi diisi dengan share dari sdr.Arnold. Setelah doa pagi, kami melakukan olahraga bersama, dipadu dengan game opposite. Selepas berolahraga, kamipun mandi dan makan pagi, untuk selanjutnya bersiap-siap mengikuti outbond.

Outbond
Pos pertama permainannya adalah gendong teman. Di pos ini peserta dilatih untuk saling bekerja sama dan saling menopang agar tujuan dapat tercapai. Di pos kedua, permainannya adalah tebak gambar. Peserta dilatih untuk kreatif dan membaca bahasa tubuh dari temannya. Pos ketiga adalah pecah balon. Di pos ketiga ini, peserta diminta untuk memecahkan balon yang hanya diisi setengahnya. Peserta dilatih untuk dapat smart dalam mencari cara agar balon-balon tersebut dapat pecah. Pos keempat adalah cerdas cermat alkitab. Tentu saja pos ini adalah ajang para peserta untuk menguji pengetahuan alkitabnya. Pos terakhir adalah permainan sms cepat. Para peserta diminta untuk saling meneruskan sms yang berisi ayat alkitab, dengan menggunakan satu HP. Pos ini menguji kecekatan dan kecepatan para peserta.
Selepas Outbond, kami beristirahat dan makan siang. Sehabis makan siang, terdapat free time, yang dapat digunakan oleh para peserta untuk beristirahat ataupun untuk persiapan mereka dalam mengisi talent show kelompok.
Sesudah free time, para peserta kembali memasuki aula dan ada isian ‘bisikan maut’. Jadi dalam isian ini, peserta diajar untuk tidak mendengarkan suatu kabar yang bukan berasal dari sumbernya. Maraknya gosip dan isu-isu di sekitar kita seringkali menimbulkan kesalahpahaman, karenanya perlu untuk mendengar langsung dari sumbernya, masalah apa yang sebenarnya terjadi. Berlanjut dari isian ‘bisikan maut’, kami menginjak sesi II.

Sesi II
Di sesi II, kami belajar tentang smart dalam hal-hal rohani. Kami dipertontonkan sebuah film mengenai dunia santet. Anak Tuhan perlu smart untuk mengidentifikasi sebuah masalah disebabkan oleh dirinya sendiri, ataukah dari suatu keadaan, ataukah dari roh jahat. Di sesi ini terdapat banyak pertanyaan yang diajukan peserta kepada pembicara. Usai sesi II, kami makan malam.

Sesi III
Sehabis makan malam, kami berlanjut ke sesi III. Di sesi ini, kami diajar bagaimana untuk menjadi anak Tuhan yang kreatif. Bukan anak Tuhan yang gampang terbawa mode dan tiru-tiru. Pembicara menunjukkan beberapa karya-karya kreatif yang pernah dibuat oleh anak bangsa ini.

Nobar
Usai sesi III, kami nonton bareng. Film tahun ini adalah “Drumline”. Film ini bercerita tentang kesatuan tim dan pentingnya kerendahan hati jika kita berada dalam tim. Seusai nonton bareng, peserta beristirahat karena sudah cukup lelah menjalani aktivitas seharian.

Day 3
Kembali dimulai dengan doa pagi. Doa pagi ini diisi dengan share dari pengalaman hidup Ibu Widagdo. Selepas doa pagi, kami mandi dan langsung makan pagi.

Sesi IV
Di sesi IV, sesi terakhir, kami dituntun untuk menyusun rencana masa depan kami, apa tujuan kami dalam menjalani hidup ini. Kami menuliskan cita-cita kami dan juga sifat-sifat buruk kami yang dapat menjadi penghalang bagi kami dalam meniti masa depan. Sesi ini berakhir dengan doa kami bagi bangsa kami, Indonesia.

Talent Show dan King&Queen
Setelah sesi IV berakhir, acara dilanjutkan dengan talent show dari kelompok-kelompok. Untuk talent show, para peserta sudah mendapat topik-topik sendiri yang harus dibawakan dalam bentuk drama. Acara begitu seru, diselingi dengan berbagai tingkah lucu dan canda dari peserta. Setelah talent show, diadakanlah pemilihan King & Queen. Dan untuk edisi retreat kali ini, yang terpilih adalah sdr.Iwan sebagai King dan sdri.Devi sebagai Queen. Mereka pun didaulat untuk berjalan keliling layaknya para model berjalan di atas catwalk.

Ibadah Penutupan
Selepas King & Queen, acara dilanjutkan dengan ibadah penutupan. Retreatpun secara resmi ditutup oleh Bapak Gembala. Dan sehabis ibadah penutupan tersebut, diumumkanlah kelompok-kelompok yang menjadi pemenang dalam outbond. Acarapun selesai, ditandai dengan dibaginya buku-buku tulisan pembicara bagi para peserta.

Dolan Bareng Ke Malioboro
Sesudah acara retreat selesai, kamipun ‘turun ke kota’. Tujuan kami adalah Malioboro. Di Malioboro kami dolan bareng, muter-muter. Dan pada akhirnya kami pulang ke Wonosobo. Eits, jangan lupa, sebelum pulang kami terlebih dahulu makan malam dengan menu spesial jogja, nasi kucing plus gorengan .
Harapan kami, di tahun-tahun berikutnya retreat dapat diadakan kembali, tentu dengan perbaikan di sana-sini, baik dari segi kualitas maupun kuantitas peserta.
Terima kasih Tuhan. Terima kasih buat semua yang sudah mendukung acara retreat ini dapat terlaksana. Amin.

2 Responses to “Retreat 2011, Sebuah Refleksi”

  1. Betharia Says:

    tempat retretny dimana ya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: