Dhuerr..

Tepat seminggu yang lalu, saya dan kedua orang tua saya bepergian ke Jogja. Tujuan dari perjalanan kami untuk mengambil LCD proyektor yang kami servis di sana. Hari masih pagi ketika kami berangkat.

Ketika akan memasuki Jogja, ada beberapa lampu merah yang kami lewati. Waktu itu saya menyetir mobil dengan agak cepat, karena memang jalanan tidak begitu ramai. Hingga kami tiba di satu lampu merah. Lampu masih menunjukkan warna kuning, dan di depan saya ada sebuah mobil. Mobil tersebut berhenti di depan kami, di saat saya masih berada dalam kecepatan yang cukup tinggi. Rem saya tekan sampai habis.. dan… dhuerr… saya menabrak mpbil di depan saya. Saya hanya berpandangan dengan ayah saya.

Tak lama, pengemudi mobil di depan saya keluar dan menghampiri mobil kami. Dia meminta pertanggungjawaban kami, dengan menunjukkan suatu bengkel di mana mobilnya dapat diperbaiki, dan dia meminta kami mengganti biaya perbaikan mobilnya. Kamipun memenuhi permintaannya.

Sesampai di bengkel tersebut, didapat bahwa bemper belakang mobil tersebut retak, namun dapat dilas kembali. Selain itu, mobil tersebut juga pernah ditabrak di bagian yang sama. Namun apa yang terjadi? Pengemudi mobil tersebut meminta agar bemper mobilnya diganti, walaupun dengan yang second. Terjadilah negosiasi yang cukup alot antara kami dan pengemudi tersebut. Harus diakui, negosiasi tersebut cukup menguras emosi kedua belah pihak.

Singkatnya, pada akhirnya terjadi kesepakatan antara kami dan orang tersebut. Kami mengganti sejumlah uang. Uang tersebut bernilai lebih dari dua kali lipat dibanding biaya jika bemper belakang mobil tersebut dilas.

Yah, pengalaman yang harus dialami sendiri memang mahal harganya. Saya minta maaf kepada orang tua saya dan juga pengemudi mobil yang saya tabrak. Saya harus lebih berkonsentrasi dalam situasi apapun.

Pelajaran waktu itu membuat saya berpikir dua kali jika ingin mengemudi dengan kecepatan tinggi. Kemudian, saya juga harus lebih berhati-hati menjaga jarak dengan mobil di depan saya.

Bagaimana dengan uang kompensasi yang harus dibayarkan waktu itu kepada pengemudi yang mobilnya saya tabrak? Apakah itu sebuah pemerasan?  Entah, itu pemerasan atau tidak, saya tidak tahu. Biarlah itu urusan beliau dengan Tuhan.

Introspeksi diri sendiri dan bersyukur saja J

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: