Pentingnya Pengenalan Alam Pada Anak

Penulis setuju dengan pendekatan sakramen dihubungkan dengan sikap kita terhadap lingkungan sekitar. Memang sakramen, dalam hal ini sakramen Perjamuan Kudus sudah memiliki arti tersendiri bagi umat Kristiani, yaitu melambangkan pengorbanan Tuhan Yesus bagi umat manusia.
Namun demikian penulis juga merasa bahwa kita perlu memiliki kepedulian terhadap alam yang dapat ditunjukkan dengan adanya roti dan anggur pada sakramen Perjamuan Kudus.

Kehidupan manusia yang cenderung individualistis dewasa ini juga merambah ke dalam gereja. Manusia hanya mempedulikan apa yang baik bagi dirinya sendiri, tanpa memperhatikan sesama di dalam gereja maupun orang di luar gereja. Bila orang lain saja tidak diperhatikan, bagaimana kita dapat memperhatikan alam di sekitar kita?

Gereja perlu mengambil bagian dalam proses pelestarian alam. Hal tersebut dapat dimulai dari hal-hal yang kecil, seperti memperhatikan kelestarian alam di sekitar kompleks gereja. Saat ini mungkin sudah banyak kompleks gereja yang tidak memiliki pepohonan. Alasan dari peniadaan pepohonan tersebut biasanya adalah karena area di mana pepohonan tumbuh dapat digunakan untuk lahan parkir. Memang alasan tersebut sangat rasional dan membuat kompleks gereja terlihat lebih luas untuk tempat parkir. Namun, di sisi lain, kepedulian terhadap lingkungan seakan diabaikan. Bila lingkungan dalam kompleks gereja saja tidak kita perhatikan, bagaimana mungkin kita dapat berpikir tentang pelestarian lingkungan di luar sana?

Menurut pendapat penulis, salah satu solusi yang dapat ditawarkan adalah mengajarkan pentingnya menjaga alam kepada anak-anak di gereja. Guru-guru sekolah minggu mengambil peran yang sangat penting untuk membawa penyadaran kepada anak-anak didik mereka. Mengapa penulis menitikberatkan pada anak-anak sekolah minggu? Karena merekalah calon-calon pemimpin generasi mendatang. Jika sedari awal mereka tidak diajarkan untuk mencintai alam dan lingkungan sekitar, apa jadinya kelak ketika mereka sudah dewasa?
Contoh konkret hal yang bisa dilakukan adalah dengan mengajar anak-anak untuk menanam tanaman di sekitar gereja. Namun bila tidak ada tanah yang tersisa, maka dapat digunakan wadah tanaman, misalnya pot. Selain itu perlu untuk sesekali mengajak anak-anak sekolah minggu berwisata alam. Jangan hanya membawa anak-anak ke tempat-tempat bermain di kota. Tapi anak-anak tersebut perlu dibawa ke lokasi-lokasi yang bernuansa alami di desa. Bahkan bila dimungkinkan, anak-anak-anak tersebut dapat diajak untuk berinteraksi dengan para pekerja di lokasi alam tersebut (seperti petani), sehingga anak-anak dapat menyadari betapa pentingnya menjaga kelestarian.

Hasil dari proses penyadaran tersebut tentu tidak akan langsung terlihat. Proses tersebut adalah untuk kepentingan jangka panjang. Namun setidaknya, bila saat ini kita sudah mengajarkan dan menyadarkan anak-anak sedari kecil untuk mencintai lingkungannya, kita dapat berharap nantinya mereka akan menjadi generasi yang tidak individualistis dan mementingkan kepentingan mereka sendiri. Sebaliknya mereka akan menjadi generasi yang mencintai alam ini, sebagai wujud cinta mereka pada Tuhan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: