Dilema Perceraian Karena Zinah

Penulis tertarik membahas judul di atas karena seringkali umat Kristiani menggunakan alasan perzinahan untuk bercerai (penulis membatasi pada masalah zinah, bukan masalah lain, seperti kekerasan dalam rumah tangga). Ayat pendukung yang digunakan adalah Mat 5:32 yang berbunyi :
“Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang menceraikan isterinya kecuali karena zinah, ia menjadikan isterinya berzinah; dan siapa yang kawin dengan perempuan yang diceraikan, ia berbuat zinah.”

Zinah seperti apakah yang dibenarkan untuk dijadikan sebagai alasan pasangan Kristen dapat bercerai? Penulis pernah membaca bahwa dalam bahasa aslinya (maaf penulis tidak mencantumkannya karena tidak hafal), kata ‘zinah’ yang tercantum dalam ayat tersebut berarti suatu perbuatan zinah (penyelewengan) yang dilakukan tidak hanya sekali, terus berulang-ulang, baik dilakukan dengan seseorang maupun berganti-ganti orang. Dengan kata lain, ruang umat Kristiani untuk bercerai sebenarnya sangatlah sempit.

Namun demikian, tidak semua umat Kristen memiliki pemahaman semacam itu, Asumsi mereka, sekali seseorang (baik suami maupun istri) berbuat zinah, maka perceraian adalah halal hukumnya. Tentu banyak kasus yang dapat menunjukkan kejadian seperti itu.

Lalu bagaimana jika ditinjau dari sudut pelaku pernikahan itu sendiri? Tentu tak mudah untuk menerima kembali seseorang yang sudah berkhianat. Apalagi berzinah dalam artian menyerahkan dengan sadar tubuhnya untuk bersetubuh dengan orang yang bukan suami/istrinya.

Bagi orang yang cukup dewasa rohani, kita akan lebih mudah menawarkan solusi pengampunan. Apabila perzinahan hanya dilakukan sekali, dan alasannya adalah khilaf (lepas kendali), mungkin pengampunan masih dapat menjadi jalan keluar rasional, walau sangat berat. Sekali lagi, itu adalah solusi bagi umat yang cukup dewasa rohaninya. Lalu bagaimana bila yang mengalami adalah jemaat yang tidak/belum dewasa rohani? Tentu akan lebih sulit menjelaskan konsep pengampunan. Tapi konsep tersebut harus tetap ditawarkan, walau keputusan akhir berada di tangan jemaat tersebut.

Di sinilah pentingnya para rohaniwan mengajarkan ajaran sehat bagi jemaatnya. Jangan sampai jemaat dininabobokan dengan ajaran-ajaran yang menyangkut pemenuhan kebutuhan hidup saja. Jemaat perlu didewasakan melalui khotbah-khotbah yang mendewasakan. Salah satunya adalah mengenai pengampunan.

Berikutnya, penulis menganggap komunitas sangat penting. Jika dimungkinkan, dapat dibuat kelompok-kelompok kecil antarkeluarga yang rutin beribadah bersama. Dalam kelompok tersebut, setiap pasangan akan merasa diperhatikan dan saling membangun satu sama lain.
Jadi, memutuskan untuk bercerai dengan alasan perbuatan zinah, tidaklah semudah yang dibayangkan orang banyak. Beberapa ayat di alkitab menunjukkan bahwa Tuhan dengan jelas sangat membenci perceraian. Apa yang disatukan Allah tidak dapat diceraikan oleh manusia. Adalah tanggungjawab pemimpin gereja untuk mempersiapkan umat untuk memiliki pemahaman teologis yang benar dan membawa umat pada kedewasaan, sehingga dapat mengambil keputusan-keputusan yang dapat dipertanggungjawabkan, khususnya menyangkut masalah perceraian karena zinah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: