Perhatikan Konteksnya (Lagu Rohani Jadul)

Dalam beberapa kesempatan ibadah, sering terdengar adanya orang yang mengkritik lagu-lagu lama karena dianggap sudah ketinggalan jaman dan tidak up to date lagi.

Namun seringkali juga orang melupakan konteks dari lagu tersebut.

Menurut cerita yang saya dengar, pernah suatu kali seorang pembicara mengkritik suatu lagu lama di depan audiens yang mendengarnya. Audiens di sini dapat juga disebut pembicara.

Saya lupa judul lagunya.

Nah, suatu kali dia berkunjung ke rumah mertuanya di desa.

Ternyata pencipta lagu yang dikritiknya tak lain adalah mertua laki-lakinya yang saat itu sudah tiada. Tak heran mertua perempuannya rada kepahitan terhadap menantunya.

Orang sering kali tidak melihat konteks yang dialami oleh sang pencipta lagu.

Lagu yang dikritiknya ternyata diciptakan ketika zaman PKI melakukan sweeping di daerah-daerah. Orang-orang yang terkena sweeping akan dibunuh.

Ketika ada beberapa orang sudah akan dibunuh, sang mertua laki-laki -yang masih memiliki darah keratin sehingga tidak dibunuh- membisikkan kata-kata yang menumbuhkan keyakinan di dalam hati orang-orang tersebut bahwa, ‘meskipun kita susah dan sengsara di dunia ini, namun kita akan berbahagia di sorga’. Kurang lebih seperti itu garis besar lagunya.

So, inti dari tulisan ini adalah jangan mengkritik lagu sembarangan, apalagi jika kita tidak mengerti konteks dari lagu itu, konteks yang dialami pencipta lagu itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: