Menghakimi?

Iseng-iseng surfing dan menemukan,

Suatu hari Yusak Cipto diundang untuk berkotbah dalam suatu KKR di suatu kota
yang tidak disebutkan namanya. Baru 10 menit berkotbah, Tuhan suruh berhenti.
Beliau berhenti, dan akibatnya beliau harus dimarahi oleh seorang hamba Tuhan,
panitia KKR itu. Besoknya baru diketahui bahwa Tuhan menyuruhnya berhenti,
karena ada seorang dukun yang hadir dalam KKR itu menantang Tuhan, katanya :
“Tuhan, kalau Engkau benar ada, suruhlah pendeta itu berhenti berkotbah.” Dan
Tuhan benar-benar melakukannya, hanya untuk menyelamatkan satu jiwa, dukun itu.
Saya tidak tahu apakah panitia KKR itu mengerti dengan apa yang dilakukan
Tuhan. Tetapi diceritakan bahwa ketika gereja lain mengadakan KKR di kota itu
dan mengundang hambaNya Yusak Cipto berkotbah, hamba Tuhan yang pernah memarahi
pak Yusak itu menghasut gereja itu untuk membatalkan KKR itu, dan KKR itupun
dibatalkan. Tetapi tidak lama kemudian hamba Tuhan itu meninggal dunia.
Suatu hari Andereas Samudra diundang untuk berkotbah di suatu gereja oleh
seorang hamba Tuhan. Tanpa berpikir apa-apa, pak Andereas berkotbah tentang
berkat. Bahwa apa yang Bapa punya, adalah juga kita punya, mengapa harus
meminta-minta lagi ? Tetapi carilah Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka
semuanya akan ditambahkan kepadamu. Tetapi itu membuat hamba Tuhan itu marah,
karena kabarnya ia suka meminta-minta sumbangan dari jemaatnya. Minggu depannya
hamba Tuhan itu berkotbah bahkan menjelek-jelekkan pak Andereas di atas mimbar.
Sesudah itu, hamba Tuhan ini kena stroke, dan 6 bulan kemudian meninggal dunia.

http://www.mail-archive.com/i-kan-untuk-revival@hub.xc.org/msg00647.html

Duh, sesama  hamba Tuhan kok bisa ya..,pikir saya..

Ya, seringkali kita ‘tergoda’ untuk menghakimi seorang hamba Tuhan. Entah gara-gara gayanya, ataupun ajarannya (khotbahnya). Dasawarsa belakangan, kalangan Kristen mulai terbiasa dengan fenomena,”saya mendengar suara Tuhan..”, “Tuhan berkata pada saya..”, “Tuhan bilang…”

Ada pula fenomena, “Injil Kemakmuran”.. Sehingga, ketika seorang hamba Tuhan mulai berkhotbah tentang berkat, langsung dicap, “Wah sesat neh, dia penganut injil kemakmuran”

Bagaimana sikap kita dengan hal-hal seperti itu? Apakah kita langung menghakimi? Ataukah kita memilih sikap seperti Maria ibu Yesus ketika didatangi malaikat Gabriel, menyimpan segala sesuatu itu dalam hati..Dalam artian, tidak langsung merespon sesuai dengan akal kita.

Berhati-hatilah dengan sikap menghakimi, sekalipun dalam pikiran..sebab, bila ternyata  hamba Tuhan tersebut benar-benar menyampaikan pesan dari Tuhan, bisa-bisa kita sedang berada di pihak yang menentang Tuhan🙂..

2 Responses to “Menghakimi?”

  1. C. S Law Says:

    Itu bukan menghakimi, tetapi cuma cerita bagaiman cara kerja Tuhan dlm bbrp perkara dlm tujuan msg”. Dan bagaimana Tuhan itu berhendak dlm sgl hal ya itu hak’a Tuhan. Diakn Hakim diatas sgl hakim. Dia tahu isi hati setiap umat-Nya n apakh org tu pntas d ksh kesempatan atau tdk. Terkadang cara Tuhan tu aneh n tdk bs diterima dg nalar kita sebagai manusia tetapi di situkan kita tahu apa maksud tujuan-Nya n jg bhw Ia tdklah main” mmberikn hukuman bagi umat-Nya tdk menghormati, percaya, berpikiran tdk benar smp menghasut banyak umat-Nya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: