‘Appy Arry’ Sang Tukang Kelontong

redknapp-reuters

London – Poplar adalah bagian dari jaringan pelabuhan kuno London di sepanjang Sungai Thames di London. Persisnya terletak di wilayah London Timur, berhadapan dengan daerah Greenwich di seberang sungai Thames yang hingga sekarang terkenal dengan garis waktu meridian-nya atau GMT.

Hingga tahun 1960-an daerah pelabuhan ini masih berfungsi dengan ramai. Dihubungkan langsung ke London dengan sebuah jalan bernama Commercial Road, nama jalan yang jelas merujuk pada kesibukan kegiatan ekonomi. Segala macam kegiatan ekonomi terjadi. Dari buruh pelabuhan, toko kelontong, hingga bisnis besar berputar di sini. Daerah yang keras tetapi mempunyai kebersamaan yang tinggi.

Pelabuhan di sepanjang Sungai Thames sekarang sudah tidak ada lagi. Daerah Poplar dan sepanjang Commersial Road sekarang dipenuhi imigran asal Anak Benua Asia: Pakistan, India, dan Bangladesh.

Haryy Redknapp, manajer baru Tottenham Hotspur, lahir dan dibesarkan di daerah ini. Adakah pengaruh masa kecil hingga remajanya berbekas mendalam di hati Redknapp? Entahlah, ia tidak pernah mengatakan dan tidak pernah mencoba menjelaskan.

Tetapi ada beberapa kualitas khas Redknapp yang sepertinya cerminan dari mereka yang dibesarkan di daerah seperti Poplar ini: lugas cenderung kasar, mempunyai rasa kebersamaan yang tinggi, cerdik memanfaatkan situasi apapun untuk mendulang keuntungan sesaat.

Di kalangan bola Inggris Redknapp dikenal sebagai tukang kelontong, wheeler dealer, mengumpulkan barang bagus yang sudah menjadi rongsokan, lalu digosok ulang agar tampil bagus; atau menyulap barang bermasalah menjadi layak hukum.

Tentu itu tafsiran kasar. Bisa diterjemahkan sebagai cibiran ataupun ungkapan kekaguman. Yang dimaksud sebenarnya adalah kemampuan khas Redknapp untuk membeli pemain tua yang sudah menurun penampilannya, dengan harga potongan, lalu ia poles sedemikian rupa sehingga bisa tampil walau tidak seratus persen namun maksimum.

Atau ia ambil pemain yang ditolak berbagai klub karena yang bersangkutan membawa bagasi persoalan yang terlalu banyak. Lalu ia rangkul agar yang bersangkutan terkontrol dan bisa tampil bagus. Tentu saja persyaratannya juga sama: harganya harus murah.

Ia juga lihai memanfaatkan situasi. Banyak pemain bagus di klub besar Eropa tetapi tidak mempunyai kesempatan bermain. Ia dengan cerdik menawar mereka bukan untuk dibeli tetapi sekadar diberi kesempatan bermain secara reguler. Ia sekadar membayar gaji pemain yang bersangkutan. Yang hebat adalah ia kadang bisa bernegosiasi untuk misalnya hanya membayar separuh dari gaji pemain yang bersangkutan, sementara separuhnya tetap dibayar klub dari klub pemain itu berasal.

Catatan manajerial Redknapp sejak di Bournemouth, West Ham, Southampton, dan Portsmouth adalah seperti itu. Mendaur ulang pemain adalah kelebihannya.

Kalaulah Arsene Wenger dan Alex Ferguson dikenal mampu menampilkan pemain muda ke gemerlap panggung persepakbolaan, sebenarnya tidak adil kalau Redknapp tidak disebutkan. Ia mempunyai perhatian yang tak kalah hebat untuk persoalan ini. Lihatlah beberapa yang sekarang berkiprah di tim nasional Inggris: Rio Ferdinand, Joe Cole, Frank Lampard, Michael Carrick, Jermain Defoe. Semuanya muncul di bawah polesan akademi West Ham saat ia memegang klub itu. Belum lagi sejumlah nama lain yang sekarang bermain di klub-klub Inggris lain.

Cara Redknapp memposisikan diri di kalangan pemain juga merupakan kekuatan lainnya. Komunikasi adalah kekuatan Redknapp. Ia bisa menyampaikan pesan dengan lucu, kadang kasar, tetapi jujur. Contoh paling mutakhir ketika Tottenham ketinggalan 1-0 dari Liverpool dan ditekan habis-habisan oleh kuartet pemain tengah Liverpool. Menyadari kalah kualitas di tengah, Redknapp malah mengurangi pemain tengah dan menambah pemain bertahan serta memasukkan striker tambahan yang tinggi besar.

Pesannya sederhana, jangan bangun serangan dari bawah tetapi tendang bola jauh-jauh ke depan melambung melewati pemain tengah Liverpool. Roman Pavlyuchenko, striker Tottenham asal Rusia, bingung dengan peran yang harus dilakukan karena ketambahan satu striker lain. Redknapp dengan tenang mengatakan: “Just f**** run about.” Maksudnya, sikat-sikat saja, bikin kacau lini belakang Liverpool. Entah apa yang terjadi tetapi yang jelas Pavlyuchenko mencetak gol kemenangan Tottenham.

Di hadapan anak cucunya, Redknapp tidak pernah mengeluarkan kata makian. Setidaknya itu pengakuannya. Tetapi di kalangan teman dan pemain, kata makian bisa menjadi subyek, obyek maupun predikat dalam kalimatnya. Bahasa Ingrisnya penuh dengan kata-kata slang Inggris anak pelabuhan London Timur.

“Appy Arry,” begitu julukannya. Ini juga khas pengucapan bahasa Inggris London Timur atau dikenal dengan aksen Cockney, yang selalu menyembunyikan konsonan H dalam pengucapan. Harry yang selalu gembira. Sikap yang sebenarnya khas milik orang Cockney. Selalu gembira, selalu bisa memanfaatkan situasi sempit dan mengubahnya menjadi kesempatan, selalu optimis, pekerja keras walau tampil santai.

Memang dalam karir manajerialnya selama 25 tahun baru sekali ia memenangi piala, yaitu Piala FA 2008 bersama Portsmouth. Bukan berarti ia tidak hebat, karena ia tidak pernah memegang klub besar. Kini ia memegang Tottenham Hotspur, salah satu klub raksasa yang terlalu lama tidur panjang. Bisakah “Appy Arry” sukses? Semuanya berawal menggembirakan. Mengalahkan Liverpool dan Bolton serta seri melawan musuh abadi Arsenal, entah selanjutnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: