Roh Kudus dan Kuasa

Subjudul          : Dasar-dasar Pengalaman Pentakostal

Penulis             : William W.Menzies dan Robert P.Menzies

 

I. Ringkasan

Melalui sejarahnya, dapat dilihat bahwa perkembangan gerakan Pentakosta banyak disebabkan oleh pengiriman misionaris-misionaris ke berbagai tempat, termasuk ke luar negeri. Namun, perkembangan tersebut tidak dibarengi dengan suatu dasar teologi yang kokoh. Sehingga masih banyak kalangan Kristen yang menolak doktrin Pentakosta. Baru setelah perkembangan Pentakosta terjadi secara signifikan secara global, kalangan Kristen lain mulai memperhitungkan Pentakosta. Sebaliknya, kaum Pentakosta juga dituntut untuk dapat mempertanggungjawabkan dasar teologis doktrin mereka. Orang-orang Pentakostapun menyadari pentingnya dasar teologis yang kuat bagi setiap pemahaman mereka. Karenanya didirikanlah sekolah-sekolah alkitab, walaupun pengajar-pengajarnya kebanyakan berasal dari kaum Evangelikal.

Buku Roh Kudus dan Kuasa menyoroti perbedaan pandangan tentang pengalaman Pentakosta, dipandang dari sudut pandang kaum Pentakosta sendiri dengan kaum Evangelikal.

Pada dasarnya, perbedaan tersebut terletak dari perbedaan penafsiran antara kaum Pentakosta dengan kaum Evangelikal. Kitab Kisah Para Rasul diragukan oleh para teolog dapat menjadi suatu dasar teologis, karena kitab tersebut berbentuk naratif. Kitab bercorak naratif dipercaya tidak bisa menjadi dasar teologis bagi suatu doktrin. Meskipun demikian, Howard Marshall, seorang cendekiawan Perjanjian Baru dari Evangelical beragumentasi bahwa Lukas adalah seorang sejarawan dan juga sekaligus seorang teolog yang berpikiran jernih. Kitab Kisah Para Rasul merupakan sejarah yang ditulis dengan agenda teologis. Walau belum diterima sepenuhnya oleh seluruh kalangan Kristen, namun penghargaan terhadap kitab naratif mulai diperlihatkan oleh kaum Evangerlikal.

Orang Pentakosta menyoroti pengalaman pentakostal dari kacamata Lukas, dalam tulisannya di Kisah Para Rasul. Sedangkan kaum Evangelikal menyoroti pengalaman pentakostal dalam kitab Kisah Para Rasul dari kacamata Paulus. Padahal, idealnya, sebuah kitab ataupun surat seharusnya sedapat mungkin dipahami berdasarkan pemahaman dan cara pandang penulis kitab tersebut. Demikian pula dengan kitab Kisah Para Rasul yang notabene ditulis oleh Lukas, seharusnya dapat disoroti dari kacamata Lukas sendiri.

Penekanan Lukas perihal peran Roh Kudus adalah peran untuk memberi kuasa yang berguna bagi kepentingan misi atau penginjilan. Sedangkan pemahaman Paulus tentang peran Roh Kudus, berdasarkan tulisan-tulisannya, lebih mengacu pada peran Roh Kudus dalam soteriologi seorang Kristen. Kaum Pentakosta lebih menitikberatkan peran karismatik Roh Kudus sebagai pemberi kuasa, bukan sebagai agen soteriologi.

Penggunaan konsep soteriologi Paulus untuk memahami Kisah Para Rasul dapat dirasa kurang tepat. Seharusnya kita menghormati sudut pandang Lukas untuk memahami dan menginterpretasikan kisah-kisah Roh Kudus dalam Kisah Para Rasul.

Hal tersebut juga membuat Kaum Pentakosta mempercayai bahwa baptisan Roh Kudus merupakan pengalaman subsequence (pengalaman yang berbeda dan terjadi sesudah pertobatan). Sedangkan kaum Evangelikal, tidak setuju dengan hal tersebut karena menganggap ketika seseorang sudah bertobat dan percaya pada Tuhan Yesus, maka orang tersebut sudah mengalami baptisan Roh Kudus.

Mengenai bahasa Roh sebagai bukti pertama seseorang mengalami baptisan Roh, hal tersebut disebabkan kaum Pentakosta memandang hal tersebut dengan menggunakan cara pandang teologi sistematis. Sedangkan kaum Evangelikal tidak mempercayainya karena mereka lebih menggunakan teologi alkitabiah. Memang apabila hal tersebut dipandang dengan sudut teologi sistematis, pandangan tersebut seakan menjadi kurang kuat. Namun Menzies mengambil jalan mengintegrasikan keduanya, baik teologi sistematis mauun alkitabiah secara bijak dalam hubungannya dengan bahasa Roh.

Sementara mengenai Baptisan Roh Kudus dan Karunia-karunia Rohani, Menzies mengatakan bahwa meskipun kita tidak bisa mempertahankan gagasan bahwa baptisan Roh merupakan pintu gerbang menuju setiap karunia rohani, namun bukti alkitabiah menyatakan bahwa baptisan Roh memang merupakan pintu gerbang menuju sekelompok karunia khusus yang digambarkan Paulus, yaitu karunia-karunia nubuat yang dihubungkan dengan pewahyuan khusus dan ucapan-ucapan yang diinspirasikan oleh Roh Kudus.

Poin penting lain yang diungkap Menzies adalah Baptisan Roh tidak berhubungan dengan kedewasaan rohani seseorang.

 

II. Kekuatan dan Kelemahan

  1. Kekuatan

Buku Roh Kudus dan Kuasa mengemukakan dengan cukup jelas dasar-dasar teologi kaum Pentakosta yang selama ini menjadi pertanyaan bagi kaum Evangelical. Penjelasan tersebut sangat berguna untuk menunjukkan kesahihan dan kebenaran teologi yang dianut kaum Pentakosta selama ini.

Buku Roh Kudus dan Kuasa dapat dijadikan pegangan oleh para pendeta Pentakosta yang mungkin selama ini juga masih bingung bila diperhadapkan dengan pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan teologi kaum Pentakosta. Diharapkan buku tersebut juga dapat ditransfer ke jemaat-jemaat Pentakosta, sehingga jemaatpun dapat memiliki dasar teologi yang kuat.

Buku tersebut juga dapat digunakan bagi kepentingan studi para teolog yang tertarik untuk membahas masalah Pentakosta maupun pneumatologi.

 

  1. Kelemahan

Bahasa yang digunakan buku tersebut dapat dikatakan cukup berat bagi kaum jemaat awam. Jemaat biasa tentu tidak dapat dengan mudah mengerti bila mereka membaca buku tersebut.

Bahkan pendeta-pendeta yang tidak memiliki background pendidikan teologipun akan kesulitan untuk mengerti maksud dan tujuan dari buku tersebut.

 

III. Rekomendasi

Buku Roh Kudus dan Kuasa cocok untuk dibaca mahasiswa-mahasiswa sekolah teologi  maupun sekolah alkitab yang sedang menuntut ilmu. Buku tersebut juga cocok untuk dibaca teolog-teolog bagi dari golongan Evangelical maupun Pentakosta. Teolog Evangelical dapat membacanya sebagai bahan untuk berdiskusi, sedangkan bagi teolog Pantekosta, selain sebagai bahan diskusi, buku tersebut dapat digunakan untuk mendukung pemahaman teologi mereka.

Buku tersebut juga hendaknya dapat dibaca dan dipahami oleh pendeta-pendeta gereja Pantekosta. Sehingga nantinya mereka mendapat dasar yang kuat bagi pemahaman dan pengalaman teologi mereka, yang nantinya dapat ditularkan kepada jemaat, tentunya dengan bahasa yang lebih umum.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 230 other followers

%d bloggers like this: