Hukuman Mati Bagi Teroris?

Share salah satu tulisan dalam tugas kuliah etika:)..

Apakah etis menghukum mati tahanan teroris? Atau lebih spesifik lagi, apakah dibenarkan oleh Firman Tuhan, jika kita menghukum mati tahanan teroris. Memang pertanyaan-pertanyaan tersebut terus menjadi dilema saat ini. Terlebih di negara tercinta Indonesia, yang beberapa kali menjadi target operasi dan juga sarang teroris. Sikap bangsa Indonesia secara umum sepertinya menghalalkan hukuman mati tersebut. Hal tersebut dilandasi kegeraman masyarakat terhadap teroris yang tidak merasa bersalah meskipun mereka sudah terbukti secara langsung atau tidak langsung terlibat dalam upaya penghilangan nyawa banyak orang.

Teroris memang ada beragam, dengan maksud dan tujuan beragam pula. Teroris yang penulis maksud dalam tulisan ini adalah teroris yang menggunakan atribut dan identitas keagamaan tertentu dalam segala tindakan mereka. Mereka menganggap bahwa tindakan yang mereka lakukan adalah benar, karena mereka melakukannya demi membela kehormatan agama (Tuhan?) mereka. Bahkan jika matipun, mereka percaya bahwa mereka melakukannya sebagai suatu syahid, dan jiwa mereka akan langsung masuk surga.

Penulis menganggap bahwa para pengajar agama memiliki peran yang penting dalam proses pekembangan para teroris tersebut. Konsep teologi para teroris telah sedemikian dibentuk sehingga menjadi pribadi-pribadi radikal, yang tidak mudah tergoyahkan. Karenanya ketika para teroris ditangkap, dan kemudian dibebaskan lagi, mereka cenderung tidak berubah dan melakukan kegiatan terorisme lagi. Hukuman mati dianggap sebagai langkah terbaik untuk menghentikan laju pertumbuhan teroris.
Belum lagi kondisi negara yang carut marut, ketidaktegasan pemerintah, dianggap sebagai bumbu yang dapat menarik seseorang untuk menjadi teroris. Mereka ingin mendirikan suatu negara yang bersih, makmur, dan sejahtera menurut pandangan mereka sendiri, berlandaskan pada suatu agama tertentu.

Memang tidak mudah untuk mengubah pendirian seseorang, terlebih bila menyangkut agama dan pemahamannya tentang agamanya (Tuhan). Tapi apakah hukuman mati adalah jalan yang terbaik? Jika tujuannya untuk jangka pendek, mungkin hukuman mati dapat menjadi solusi instan. Tapi, siapa dapat membunuh suatu ideologi? Terlebih bila dalam ideologi tersebut mati dianggap sebagai suatu tindakan heroik dan dibenarkan secara agama?

Menurut penulis, hal yang patut dibenahi adalah bagaimana negara dapat menjamin adanya keadilan hukum dalam masyarakat. Jika ketidakadilan dan segala penyelewengan kekuasaan masih berlangsung, konsep dan ideologi terorisme pastilah tetap tumbuh subur, karena menjanjikan suatu perubahan yang lebih baik di masa datang. Kedua, para ahli agama harus turun sampai ke akar rumput, ke desa-desa untuk dapat membina para tokoh-tokoh agama, dan memberikan pemahaman-pemahaman teologi sesuai dengan konteks yang benar. Sebab justru di desa-desa konsep dan ideologi teroris berkembang dengan pesat.

Lalu bagaimana dengan para tahanan teroris? Saya lebih setuju mereka dihukum seumur hidup, dibanding hukuman mati, sambil terus dibina dan diawasi secara ketat. Hak hidup mereka perlu dipertahankan, sebab setiap manusia diberi hak untuk hidup oleh Tuhan, dan menurut penulis kita tidak dapat dan tidak diperbolehkan untuk merenggut hak hidup orang tersebut. Namun di sisi lain, jangan biarkan pula mereka menyebarkan doktrin mereka kepada tahanan-tahanan lain di penjara. Membiarkan para tahanan teroris diberi keleluasaan gerak di dalam penjara sama saja dengan membiarkan ajaran mereka terus berkembang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 247 other followers

%d bloggers like this: